Jumat, 29 Agustus 2014

Piramida Terbalik dalam Sebuah Berita

Piramida Terbalik dan 5W + 1H dalam Berita

Struktur Berita Piramida Terbalik

Ada dua hal yang harus dikuasai seorang jurnalis atau calon jurnalis dalam menulis berita dengan benar. Kedua hal itu ialah metode dan teknik menulis piramida terbalik dan 5W plus 1 H.  Di dunia non-jurnalis kedua metode dan teknik tersebut dapat membantu setiap orang, termasuk guru dan siswa, bloger dan mereka yang ingin bergerak di bidang penulisan untuk menulis secara efektif.
Salah satu ciri tulisan jurnalistik  ialah padat dan informatif. Oleh sebab itu dibuatlah rumus atau  formula piramida terbalik dan 5W+1H.  Formula tersebut juga membantu pembaca untuk mudah memahami isi hasil reportase atau tulisan jenis lain.
Formula ini mudah dihafalkan tetapi dalam praktiknya banyak media yang sering melakukan kesalahan mendasar. Sebab masih banyak berita yang susuannya tidak sesuai dengan formula tersebut.  Ini membuktikan masih banyak  jurnalis melakukan kesealahan. Kesalahan bisa terjadi sejak di lapangan ketika seorang reporter atau wartawan melakukan tugas peliputan di lapangan hingga redaktur yang melakukan tugas penyuntingan. Intinya masih banyak pekerja media yang tidak mengatahui formula piramida terbalik dan 5W+1H.  Untuk membuktikannya, silakan membaca koran-koran lokal di daerah Anda dan amatilah dengan seksama.
Tulisan berbentuk berita memiliki struktur yang unik. Inti informasi ditulis pada alinea awal – kerap disebut sebagai "lead" atau "teras berita"; biasanya satu hingga dua paragraph.  Data-data penting menyusul pada alinea-alinea selanjutnya, lalu diikuti penjelasan tambahan, dan diakhiri dengan informasi lain yang bukan bersifat informasi utama. Inilah yang disebut sebagai piramida terbalik.
Bangunan tulisan yang bersifat piramidal terbalik memudahkan pembaca menangkap inti cerita, sebab informasi yang paling pokok langsung dibeberkan di alinea (-alinea) awal.  Susunan berita yang ditulis dengan formula piramida terbalik juga memberikan keuntungan bagi redaksi, ketika sebuah naskah berita harus diperpendek karena ruang yang terbatas dan tenggat waktu [deadline] sudah tiba. Redaktur tinggal memotong bagian bawah karena bagian terbawah bangunan tulisan berisi informasi yang kian tidak penting. Sepanjang sebuah nasakah berita ditulis dengan pola piramida terbalik, maka kalimat-kalimat yang dibuang itu tidak akan mengurangi makna berita.
Selain disusun dengan menggunakan formula piramida terbalik, sebuah tulisan akan disebut sebagai berita yang baik dan benar jika memenuhi unsur-unsur yang mutlak harus ada dalam sebuah berita. Unsur-unsur yang dimaksud  sering disingkat dengan singkatan terkenal, yakni  5W + 1H.

Namun tidak semua peristiwa atau kejadian dalam hidup ini dapat diangkat atau layak dijadikan berita. Sebuah peristiwa atau kejadian layak diangkat sebagai berita jika memiliki nilai berita. Nilai berita adalah elemen-elemen yang membuat sebuah peristiwa atau percakapan layak disebut sebagai berita. Calon jurnalis yang ingin menulis berita dengan benar harus paham bahwa 5W+1H adalah unsur berita, bukan nilai berita.
5W+1H adalah singkatan dari What, Who, When, Where, Why, dan How.  Dalam bahasa Indonesia bisa disebut Apa, Siapa, Kapan, di Mana, Mengapa, dan Bagaimana. Semua unsur tersebut harus terkandung dalam sebuah berita, terutama ragam berita langsung. Untuk ragam berita dan tulisan lain, seperti feature dan analisis berita, tidak semua unsur 5W+1H harus dipenuhi.

Memasukkan keenam unsur tersbut ke dalam tulisan merupakan pekerjaan yang mudah, sebab pada dasarnya ia sama saja dengan ketika seseorang berbicara dengan orang lain. Misalkan seseorang baru tiba di kantor lalu bercerita pada rekannya tentang sebuah kecelakaan yang baru saja dilihatnya.
“Waduh, kamu tahu enggak, tadi sekitar jam 07.00 (KAPAN), di dekat lampu merah di simpang empat antara Jalan A dan Jalan B, (DI MANA), saya melihat tabrakan antara angkot dengan sedan (APA). Kejadiannya di depan saya persis. Sopir angkota nggak apa-apa, tapi sopir mobil sedan (SIAPA)  luka parah. Yang salah sih menurut saya sopir angkot. Saya sempat lihat, dia nerabas lampu merah karena mau ngejar penumpang di seberang perempatan. Nggak tahunya dari arah lain ada sedan lari kencang karena lampunya hijau. Ya udah bres. Pengemudi sedan kena berdarah-darah kena pecahan kaca. [BAGAIMANA]. Saya seempat berhenti mau bantu cariin taksi. Tapi karena nggak lama kemudian polisi dating, saya nggak jadi bantu. Setelah mengumpulkan data polisinya bilang, ternyata yang salah memang sopir angkot karena nekat menerobos lampu merah [MENGAPA].”
Cerita di atas sudah cukup jelas. Orang yang mendengar cerita Anda pasti paham apa inti ceritanya. Bayangkanlah jika salah satu unsur cerita itu tidak disebutkan, misalnya unsur WHEN (DI MANA), pasti orang yang mendengar cerita akan bertanya-tanya, “Gimana sih, dari tadi asyik cerita tabrakan tapi tempat kejadiannya nggak diceritain.” Digubah dari www.blogberita.com


Jadi rumus populer yang bersifat teknis untuk mengumpulkan dan menyusun berita ialah 5W + 1H 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar